Jumat, 31 Mei 2013

Kutukan Maharsi Wasistha.


Inilah dimana permulaan cerita Mahabharata dimulai. Pada awalanya Raja Sentanu dari kerajaan Astina terpikat dengan kecantikan Dewi Gangga. Maka dengan keberaniannya Raja Sentanu meminang Dewi Gangga, dan Dewi Gangga menerimanya dengan syarat: tidak bertanya macam – macam dengan apa yang dilakukan olehnya. Karena Raja Sentanu sudah terbutakan hatinya oleh kecantikan Dewi Gangga maka ia pun menerima syarat tersebut.

Seiring berjalannya waktu Dewi Gangga dan Raja Sentanu banyak memiliki anak. Namun dari setiap anak yang lahir harus dibenamkan ke dalam sungai Ganngga. Begitu seterusnya hingga pada anak yang ketujuh. Tentu saja Raja Sentanu geram melihat tingkah istri kesayangannya, namun apa daya ia sudah terikat akan janji pada awal meminangnya. Ketika lahir anak ke delapan Dewi Gangga pun hendak melakukan hal yang sama. Namun Raja Sentanu sudah tidak tahan dan geram melarang Dewi Gangga membunuh anaknya karena Ia takut nantinya tidak ada pewaris tahta untuk kerajaannya.

Dewi Gangga pun mengurungkan niatnya untuk membenamkan anak ke delapan tersebut. Ia berkata kepada Raja Sentanu bahwa ia sudah melanggar sumpahnya. Terkejutlah Raja Sentanu karena seketika itu Dewi Gangga berubah menjadi bidadari dan terbang menghilang ke angkasa.

Namun sebelum Dewi Gangga lenyap ia menceritakan bahwa anak – anak yang dilahirkan adalah para Vasu (Brahmana Suci) yang telah mendapat kutuk dari Maharsi Wasistha.

Maharsi Wasistha mengutuk para Vasu karena mereka telah mencuri sapi yang bernama Nandini miliknya. Barang siapa yang meminum susu sapi Nandini maka ia akan hidup abadi. Maka kutukan tersebut mengharuskan para Vasu harus menderita dengan terlahir ke dunia kemudian langsung moksa (kembali ke alam keabadian).

Di antara ke delapan Vasu, ada satu yang harus menderita dan tinggal lebih lama di dunia karena ia yang menuntun sapi Nandini dari pertapaan maharsi Wasistha. Ia kemudian dikenal sebagai Bhisma dalam pewayangan Mahabharata.

Kutukan yang terulang.
Bertanya – tanya bila mengamati berbagai media social geger mengabarkan gara – gara “sapi” menyeret para elit ke dalam genggaman KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Di sanalah takdir para elit itu ditentukan. Apakah bebas atau menderita dibalik pesakitan jeruji besi penjara.

Sudah dipastikan tentunya elit tersebut tidak pernah nonton pertunjukan kisah – kisah pewayangan yang bersumber dari Mahabharata. Meskipun sebagian orang menganggap wayang sebagai tontonan kuno, ketinggalan zaman namun dibalik itu semua setiap kisah atau lakon banyak menyampaikan pesan – pesan moral yang adi luhung, ber-budha-ya, ajaran dari leluhur.

Seandainya elit itu menyimak dan mendalami pewayangan tentu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Gara – gara sapi para Vasu harus terkena kutuk berupa penderitaan lahir ke dunia. Dan di jaman kemajuan ini, masih gara – gara “sapi” harus berurusan dengan KPK… Entah apakah ini kutukan atau bukan???  

Yang jelas selamat mengenakan seragam baru tahanan KPK.

Senin, 31 Desember 2012

Menata Rumah Kehidupan

Tidak terasa tahun baru telah datang kembali. Perjalanan waktu terasa begitu singkat, sepertinya baru kemarin merayakan tahun baru dan malam ini seluruh umat manusia kembali menyambut datangnya tahun baru.

Kedatangan tahun baru memang dianggap istimewa karena tidak sedikit setiap insan berharap di tahun yang baru ini akan lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya. Namun ada  juga yang mengacuhkan kedatangan tahun baru sebagai perayaan yang sepesial karena tidak memberikan pengaruh apa – apa dalam kehidupan. Tidak ada yang salah memang, itu semua tergantung dari sudut pandang masing – masing. Kita tidak bisa menyalahkan ketika ikan senang hidup di air dan burung suka terbang di udara.

Namun bagi yang mau mengambil waktu yang tepat ini datangnya tahun baru mari dijadikan momen untuk lebih membijaksanai kehidupan. Menciptakan kehidupan yang harmonis saling menjaga, mengasihi dan menyayangi.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya dalam rentetan tahun 2012 tidak sedikit konflik maupun peperangan terjadi disepanjang tahun yang hanya dikarenakan hal –hal kecil nan sepele. Jatuhnya korban tentu dari kedua belah pihak masih menyisakan dendam.  Sehingga pantas direnungi bahwasannya menyambut tahun baru ini mari kita semua redam seluruh amarah dan benci yang dapat menyelubungi kebijaksanaan kita. Mari kita buka pintu maaf dan melepaskan apapun yang sudah terjadi sebagai hikmah dan pembelajaran hidup. Mari kita songsong tahun 2013 sebagai tahun yang penuh kedamaian, ketentraman dan keindahan.

Kedamaian yang diimpikan dan didambakan oleh semua pihak tentu akan terwujud bila setiap insan mampu menahan diri. Menahan diri dari amarah, keinginan, nafsu, kebingungan, kemabukan serta  iri  dengki. Itulah enam musuh yang ada di dalam setiap diri manusia. Musuh terberat adalah musuh yang berada dalam diri itulah yang dinamakan sebagai ego.

Lantas bagaimana kita menata kehidupan yang bebas dari ego?

Mari kita lihat tukang kebun yang mampu mengolah kotoran menjadi kompos sehingga bunga yang ditanam dapat mekar dengan sempurna. Bunga tidak dapat mekar tanpa kotoran. Jadi disini kita dituntut untuk pandai dan bijaksana dalam mengolah kotoran – kotoran menjadi pupuk pertumbuhan dan akankah kita mampu laksana tukang kebun yang mampu mengolah musuh – musuh dalam diri (kotoran) menjadi vitamin pertumbuhan jiwa sehingga nantinya bunga pencerahan akan muncul dengan sempurna.

Mengisi tahun baru ini layak bagi kita semua untuk menjaga kedamaian dunia karena kedamaian adalah tanggung jawab kita semua sebagai penghuni bumi yang satu ini.

Selamat tahun baru 2013 semoga semua mahluk berbahagia. Damai negeriku damai bangsaku damai bumiku.

Kamis, 13 Desember 2012

Dibalik Udang Ada Batu

Saat mengunjungi sebuah kota Konya, Nasrudin melewati sebuah toko helva – semacam permen khas kota tersebut. Nasrudin ingin sekali memakan helva tersebut, tetapi ia tak punya uang. Nasrudin nekat. Ia masuk ke took itu dan langsung mengambil helva berukuran besar. Krauk…krauk…krauk… Nasrudin langsung memakannya. Tentu saja, pemilik took naik pitam.

“Hei, siapa yang mengizinkanmu makan? Tidak minta izin, tidak pula membayar. Kurang ajar sekali kau!” teriaknya. Namun Narsrudin tidak peduli. Krauk…krauk…krauk…

Akhirnya, pemlik toko itu manghampri Nasrudin dan mulai memukulnya. Tentu saja, suasana menjadi heboh dan banyak orang yang menonton.Kepada para penonton, Nasrudin berteriak, “Orang Konya sungguh dermawan. Lihat, ia memukul dan memaksaku untuk memakan helvanya!!”

Begitulah gambaran bagaimana kebanyakan para elit politik, pejabat dan pemimpin di Indonesia. Mereka seperti dalam senetron sedang asik mempermainkan dagelan untuk menipu rakyatnya.

Tidak sedikit para pejabat yang katanya terhormat tersandung kasus korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) namun dengan dalih – dalih yang dipermainkan, mereka bisa saja memutar, membalikkan fakta bahwa seolah – olah dirinya tidak bersalah. Sungguh pemandangan yang sangat tragis dan memprihatinkan karena di setiap chanel telivisi hampir setiap menit hal tersebutlah yang dipertontonkan.

Sepertinya elit pejabat memang sudah kehilangan rasa malu. Berbagai tipu muslihat dan berbagai topeng ia kenakan untuk menutupi kebobrokannya. Dan lebih parahnya ada juga yang menggunakan kedok agama sebagai payung perlindungan. 

Mungkin inilah yang disebut zaman edan (gila). Ketika zaman sudah edan maka pepatah Jawa yang menyebutkan “zaman edan yen ora ngedan ora keduman” (zaman edan jika tidak ikut-ikutan nanti tidak kebagian) mulai berlaku. 

Memang zaman edan ini telah diramalkan dalam serat kalatida karya Ronggowarsito. Dimana zaman ini ditandai dengan runtuhnya moral para pemimpin bangsa, semua sudah meninggalkan etika, tidak adanya panutan, tumpulnya pedang keadilan dan kehidupan semakin mencekam. Singkat kata bahwa mencari orang jujur itu susah. Maka menjadi wajar jika muncul slogan dari Lembaga Anti Korupsi bahawa “JUJUR ITU HEBAT”.

Itulah ilustrasi dari cerita Nasrudin yang tidak dapat menahan hasrat keinginannya telah melanggar norma dengan seenaknya tanpa ijin mengambil yang bukan haknya. Dan tatkala dihukum, di depan penonton Nasrudin malah berseru “Lihat, ia memukul dan memaksaku untuk memakan helvanya!!”. Sepertinya tidak jauh beda dengan yang dipertontonkan di lembaga peradilan kita.

Minggu, 17 Juni 2012

Melihat ( Dharma) Kebenaran.


Dalam ajaran Hindu kebenaran diartikan sebagai dharma. Bahwasanya dharma melingkupi segala hal di semesta raya ini. Sebuah pepatah Zen menyatakan bahwa “kebenaran itu sederhana namun sulit untuk dilaksanakan”.

Kita semua tahu logika akan kebenaran tapi berapa yang benar-benar mampu melaksanakan. Kita mudah bilang bahwa untuk mendapat kebahagian dan untuk berda pada jalur dharma dengan mengusahakan Tri Kaya Parisudha yaitu tiga hal yang patut disucikan yang meliputi perbuatan, perkataan dan pikiran. Begitu sederhananya namun banyak orang yang gagal dalam penerapannya. Bahkan dunia semakin tidak harmonis karena setiap insan menjadi lebih sensitif dengan menyikapi sesuatu dengan perdebatan dan kemarahan. Sepertinya ajaran para leluhur kian memudar.

Melihat hakekatnya bahwa sesungguhnya antara manusia (bhuana alit) dengan alam semesta (bhuana agung) saling terhubung. Bahkan dalam ajaran dharma kita semua adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Satu saja terjadi ketidak seimbangan pada alam akan berdampak pada seluruh kehidupan. Sebagai pengandaian adalah tubuh manusia tatkala kaki tersandung maka seluruh badan akan mengalami rasa sakit yang sama. Jika demikian tatkala ada mahluk lain yang tersakiti hendaknya kita juga merasakan hal yang sama. Karena kita adalah satu.

Tat Twam Asi (aku adalah kamu) adalah ajaran universal yang tidak kalah luhurnya untuk menggapai keharmonisan semesta. Dengan paham ini sesungguhnya kedamaian dunia mampu diwujudkan. Kita satu. Aku adalah kamu, apa yang kamu rasakan akupun merasakannya. Ini adalah ajaran tentang cinta kasih dan welas asih yang mendalam. Tidak perduli dari mana kita berasal, warna kulit yang berbeda, agama maupun suku kita adalah sama dan satu. Ketika kaki terluka seluruh badan juga akan terluka. Ingatlah akan hal ini.

Melalui pendekatan Tat Twam Asi juga kiranya kita memandang semua kehidupan sama. Kita sepatutnya mampu menjaga keharmonisan alam. Tidak ada yang berbeda antara manusia, binatang dan tumbuhan. Melihat melalui mata dharma semua adalah sama. Semua sama sebagai bagian alam semesta. Semua milik alam. Merusak satu saja sumber kehidupan akan berdampak buruk bagi keseimbangan alam.

Sebuah warisan luhur telah berkembang dan tumbuh di pulau Bali apa yang disebut sebagai Tri Hita Karana, tiga hubungan penyebab kebahagiaan dan kemakmuran. Yakni hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama dan manusia dengan lingkungannya. Dan sampai pada saat ini Tri Hita Karana telah dijadikan ruh dalam penyusunan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Bali. Oeh sebabnya sampai pada saat ini Bali masih menjadi destiny pariwisata oleh masyarakat dunia karena kondisi alam, manusia dan Tuhannya terjalin harmonis.

Dalam falsafah Jawa Kuno tersirat pepatah “memayu hayuning bhawana” yang berarti kita hidup untuk membuat dunia menjadi lebih indah, damai dan lestari. Itulah ajaran dari nenek moyang yang banyak diabaikan dan terkesan dilupakan oleh generasi penerus. Leluhur telah mengajarkan banyak hal untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan. Dan sepertinya kita sebagai pewaris malah lebih banyak merusak ketimbang menjaga dan melestarikan. Apakah itu artinya kita sebagai manusia telah gagal dalam mengemban dharma. Kita tidak lagi memayu mayuning bhawana lagi. Mungkin menjadi hukum karma dan hukum alam bila alam menjawab dan memperlakukan hal yang sama terhadap sikap dan perilaku manusia yang semakin tidak beradab yaitu dengan hilangnya keseimbangan alam sehingga rentetan bencana datang bertubi-tubi.

Sesungguhnya tidak ada kata terlambat untuk menghentikan ketidakseimbangan yang menjadikan dunia tidak harmonis. Mari kembali pada ajaran leluhur untuk selalu berada pada jalan dharma. Kita tidak perlu menganut faham apapun untuk berbuat baik. Cukup menjadi diri sendiri dengan penuh kesadaran dan niat untuk menolong dan menjadikan kehidupan yang lebih baik. Hutan akan terlihat hijau bila setiap pohonya memiliki daun yang hijau. Hal yang sama juga berlaku bahwa dunia akan menjadi baik jika setiap penghuninya menjadi cukup baik.

Semoga semua mahluk terbebabas dari penderitaan dan sebab-sebab penderitaan dan semoga semua mahluk berbahagia. Santih.




Rabu, 09 Mei 2012

Untungnya Jadi Manusia


Lahir menjadi manusia tidak semerta – merta dari tidak ada kemudian menjadi ada. Tidak ada rumusnya tiba-tiba muncul menjadi sebuah wujud berupa manusia tanpa tahu dari mana awalnya. Dalam jalan karma bahwa akibat muncul dari adanya sebab. Dan dapat dijelaskan bahwa  kelahiran menjadi manusia merupakan hasil evolusi perjalanan dari banyak kelahiran. Entah sudah berapa ribu bahkan berjuta-juta kelahiran untuk mendapat kesempatan menjadi manusia. Dari mahluk bersel satu (vertebrata) hingga membentuk mahluk berjenis homo (anvertebrata). Dari wujud tidak sempurna menjadi bentuk yang sempurna.

Itulah evolusi dari perjalanan yang dapat diterima oleh nalar maupun ilmu pengetahuan bahwa menjadi manusia adalah proses panjang dari sebuah evolusi.  Tidak hanya tubuh fisik yang mengalami evolusi namun jiwa ataupun batin pun mengalami evolusi.  Itu sebabnya menjadi manusia sungguh-sungguh utama. Namun banyak dari kita tidak menyadari akan hal itu.

Terlahir kembali memang sebuah dukha. Namun demi mencapai kebebasan sebaiknya tetap bersungguh-sungguh untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Sehingga dalam kelahiran selanjutnya bisa mendapat tempat yang lebih baik dari sekarang. Hingga pada akhir kelahiran batin seseorang benar-benar terbebaskan. Kita semua tahu bahwa ini tidak mudah. Dan dalam Bhagavad Gita VII-19 tersirat bahwa “orang bijaksana akan datang kepada-Ku pada akhir banyak kelahiran, karena tahu Vasudeva (Tuhan) adalah segalanya ini, sukar mendapatkan orang agung seperti itu.

Kesukaran untuk membebaskan batin kerap kali disebabkan oleh kekelirutahuan dalam memandang sebuah kondisi-kondisi. Batin masih diselimuti oleh sifat dualitas. Dianggap baik jika itu menyenangkan dan menganggap buruk bila itu menyengsarakan. Sehingga timbul sifat kecintaan dan kebencian yang berlebihan. Kemudian perbuatan-perbuatan yang dilakukan masih dalam tataran baik – buruk, benar – salah, suci – kotor, hitam – putih. Semua pandangan menjadi bertentangan hingga pada akhirnya membuat konflik dalam batin. Dan tidak terelakan batin pun tidak akan pernah mencapai damai.

Akibat pergolakan batin inilah kemudian menjadikan pelbagai kotoran batin muncul. Batin menjadi tidak murni kehilangan keseimbangan. Dari kondisi seperti inilah timbul apa yang disebut dengan Klesa. Bak emas yang dipuja – puja, bila dipahami secara mendalam emas tidak ubahnya dengan bebatuan di sungai. Namun dengan mati-matian kita yakini dengan emas kita bisa hidup dengan bahagia. Sama halnya seorang pria terpesona melihat seorang gadis namun membuang muka bila ada nenek yang lewat di depannya. Begitulah cara Klesa bekerja pada batin kita.

Akibat klesa memyelimuti batin maka setiap pandangan dan perbuatan kita menjadi keliru. Dan ini dilakukan terus – menerus serta kita memperkuat dengan pemikiran – pemikiran kita. Sebagai contoh kita lahir dalam situasi yang kurang beruntung, masih serba kekurangan dalam hal materi, namun karena kesengsaraan ini kemudian kita mengambil jalan pintas. Banyak perbuatan-perbuatan yang justru akan menambah kesengsaraan pada kelahiran selanjutnya. Dan dengan pasti jalan pembebasan dan kebahagiaan akan makin menjauh.

Kembali dari keutamaan menjadi manusia, meski sengsara dan penuh duka ada baiknya kita menyadari bahwa karma baik kita belum cukup banyak untuk membayar sebuah kenikmatan dan kenyamanan dunia. Tidak seharusnya dalam duka kita menjadi putus asa. Namun sebaliknya kesengsaraan ini dijadikan motifasi untuk memperbaiki kondisi yang kurang berutung dalam kehidupan saat ini. Karena sudah menjadi kepastian bahwa kelahiran kembali akan datang pada diri kita. Kehidupan yang sengsara ini kita penuhi oleh perbuatan – perbuatan bajik. Menabung karma baik untuk mendapatkan karcis agar bisa masuk dalam sebuah kehidupan yang lebih baik.

Dan dalam akhir karma, mencoba mencapai tujuan tertinggi agar tidak terlahir kembali maka dengan segenap upaya batin dilatih untuk dapat melepas dan menerima hal sebagai mana adanya. Lepas dari keterikatan kedunawian.

Kita tahu namun tidak tahu. Tahu bahwa setiap mahluk termasuk manusia akan mati, namun tidak tahu hal itu kapan akan terjadi. Berbekal pandangan ini kita berupaya untuk mulai melepas segala hal. Dalam kematian kita tahu kita akan kehilangan Atma (nyawa). Dan ternyata masih banyak juga orang-orang yang masih takut kehilangan nyawanya. Banyak yang memohon agar usianya diperpanjang agar bisa bersenang-senang di dunia. Mengumpulkan segala kekayaan dan materi untuk kebahagiaan yang palsu. Dan bisa dilihat betapa menderitanya orang-orang seperti ini bila kehilangan ataupun jika hartanya berkurang. Inilah tandanya Klesa sedang bekerja.

Cepat atau lambat kematian akan datang. Dan kita akan kehilangan nyawa kita. Bagaimana kita bisa mati dengan tenang dengan penuh bahagia bila “kehilangan” sandal jepit saja masih marah-marah???

Demi mencapai pembebasan alangkah baik bila kesempatan menjadi manusia ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebuah pesan dari Guru Agung yang tercerahkan bahwa “kita lahir untuk tidak dilahirkan”.

Dan demi semua mahluk semoga berhagia. Santih...